Lewati ke konten utama
VegEco
Nol Sampah

Ikuti Uangnya: Siapa yang Menang di Pasar Insinerasi Sampah Indonesia 2026?

Analisis pasar insinerasi sampah di Indonesia: angka investasi, pemain utama, dampak lingkungan, dan siapa yang benar-benar diuntungkan—serta alternatif zero waste yang lebih adil.

Oleh Ratna Dewi Lestari7 menit bacaJakarta, ID
Pembangkit listrik insinerasi sampah di Indonesia mengeluarkan asap di tengah area hijau, 2026
VegEco / archive

**Jawaban singkat:** Pasar insinerasi sampah di Indonesia sedang melonjak, dengan investasi mencapai Rp 40 triliun sejak 2022, didorong oleh kebijakan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Namun, di balik angka pertumbuhan, insinerasi justru memperburuk krisis iklim, merugikan pemulung, dan mengancam target zero waste—sementara pemain besar seperti Hitachi Zosen dan PT PLN menikmati keuntungan. Artikel ini membedah siapa yang benar-benar menang dan kalah dalam pasar ini, berdasarkan data 2026.

Berapa Nilai Pasar Insinerasi Sampah Indonesia pada 2026?

Menurut laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, 2025), Indonesia menargetkan 18 proyek PLTSa yang tersebar di 12 kota, dengan total kapasitas 234 MW. Investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 40 triliun, sebagian besar berasal dari skema kerja sama pemerintah-swasta (PPP) dan pinjaman luar negeri. Pada awal 2026, baru 4 proyek yang beroperasi penuh, termasuk PLTSa Benowo di Surabaya dan PLTSa Cilacap, sementara 14 lainnya masih dalam tahap konstruksi atau lelang.

Nilai pasar ini tumbuh sekitar 22% per tahun sejak 2022, menurut riset Indonesia Solid Waste Association (InSWA, 2025). Namun, pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan transparansi biaya operasional. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2024) menunjukkan biaya pengolahan per ton sampah di insinerator mencapai Rp 800.000–Rp 1,2 juta, jauh lebih mahal dibandingkan pengomposan yang hanya Rp 150.000–Rp 300.000 per ton. Angka ini menjadi dasar kritik bahwa insinerasi adalah solusi yang salah arah.

Siapa yang Diuntungkan dari Booming Insinerasi?

Pemain utama yang paling diuntungkan adalah perusahaan teknologi insinerasi asing seperti Hitachi Zosen (Jepang), Mitsubishi Heavy Industries, dan Martin GmbH (Jerman). Mereka memasok teknologi dan menerima royalti serta kontrak pemeliharaan jangka panjang. Misalnya, PLTSa Benowo menggunakan teknologi Hitachi Zosen, dengan biaya konstruksi Rp 1,3 triliun yang dibiayai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).

Di sisi domestik, PT PLN (Persero) memperoleh pendapatan dari pembelian listrik yang dihasilkan, dengan tarif yang disubsidi pemerintah. Sementara itu, kontraktor lokal seperti PT Wijaya Karya dan PT Adhi Karya mendapatkan proyek konstruksi senilai miliaran rupiah. Namun, keuntungan ini tidak dirasakan oleh masyarakat sekitar yang justru menanggung beban polusi udara dan penurunan kualitas hidup—seperti yang terjadi di Yogyakarta, di mana warga menolak pembangunan PLTSa karena kekhawatiran kesehatan.

PemainPeranInvestasi (Rp triliun)Keuntungan utama
Hitachi Zosen (Jepang)Teknologi5,2Kontrak pemeliharaan 20 tahun
Mitsubishi Heavy IndustriesTeknologi3,8Ekspor boiler dan turbin
PT PLNPembeli listrik2,1Subsidi tarif listrik
PT Wijaya KaryaKonstruksi1,7Proyek EPC
PT Adhi KaryaKonstruksi1,4Proyek EPC
Pemerintah daerahIzin & lahan0,5Pendapatan retribusi
Pemain utama pasar insinerasi Indonesia (2026)

Peran JICA dan Bank Dunia dalam Pendanaan

Pendanaan asing sangat dominan. JICA telah mengucurkan pinjaman lunak sebesar Rp 6 triliun untuk PLTSa Benowo dan proyek lainnya, dengan bunga rendah sekitar 0,1% per tahun. Bank Dunia juga memberikan dukungan teknis melalui program Clean Technology Fund. Namun, syarat-syarat pinjaman sering kali mengharuskan penggunaan teknologi dan vendor dari negara pemberi dana, yang membuat biaya jangka panjang semakin membengkak bagi Indonesia.

Pemulung dan Sektor Informal: Pihak yang Terpinggirkan

Pemulung dan sektor daur ulang informal memproses sekitar 7% sampah plastik Indonesia, menurut penelitian World Bank (2021). Namun, insinerasi justru mengurangi pasokan bahan daur ulang karena sampah dibakar, menghilangkan mata pencaharian sekitar 200.000 pemulung di perkotaan. Koalisi Pemulung Indonesia (KPI) melaporkan penurunan pendapatan hingga 30% di kota-kota yang memiliki PLTSa, karena sampah plastik yang sebelumnya bernilai kini dibakar.

Insinerasi adalah solusi yang menghancurkan ekonomi sirkular yang sudah ada. Pemulung kehilangan pekerjaan, lingkungan tercemar, dan hanya segelintir perusahaan yang menikmati keuntungan.

Yuyun Ismawati, Aktivis Lingkungan, BaliFokus

Siapa yang Kalah dalam Pasar Insinerasi?

Kelompok yang paling dirugikan adalah masyarakat sekitar insinerator. Studi dari Greenpeace Indonesia (2023) menemukan bahwa emisi dioksin dan furan dari PLTSa Benowo melebihi baku mutu udara, menyebabkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 40% di kelurahan Romokalisari. Pemerintah kota Surabaya membantah, tetapi data kesehatan puskesmas setempat menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Selain itu, insinerasi mengancam target pengurangan sampah yang ditetapkan dalam Perpres 97/2017, yang menargetkan pengurangan 30% sampah dan penanganan 70% sampah pada 2025. Namun, pada 2024, Indonesia baru mencapai pengurangan 17%, menurut KLHK. Insinerasi justru meningkatkan volume sampah yang dibakar, mempercepat kerusakan lingkungan, dan mengabaikan hierarki pengelolaan sampah yang memprioritaskan reduce, reuse, dan recycle.

Bagaimana Insinerasi Mempengaruhi Target Zero Waste Indonesia?

Konsep zero waste bertujuan mengurangi sampah sejak sumber, bukan membakarnya. Insinerasi justru menciptakan ketergantungan pada sampah sebagai bahan bakar, sehingga pemerintah daerah cenderung mempertahankan volume sampah yang tinggi, bukan menguranginya. Di Indonesia, kontrak PLTSa sering kali mencakup klausul 'pass or pay', yang mewajibkan pemerintah membayar meskipun sampah tidak mencapai kuota—seperti yang terjadi di PLTSa Cilacap, di mana pasokan sampah kurang dari 60% kapasitas.

Akibatnya, insentif untuk memilah sampah organik dan plastik daur ulang justru menurun. Kota-kota yang fokus pada pengomposan dan bank sampah, seperti Yogyakarta dan Bandung, menunjukkan hasil lebih baik dalam mengurangi sampah ke TPA. Yogyakarta berhasil mengurangi 25% sampah yang dikirim ke TPA Piyungan melalui program bank sampah, menurut Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta (2025).

Investasi insinerasi vs program daur ulang (2020-2026, dalam Rp triliun)

12 Bulan ke Depan: Prediksi Perkembangan Pasar Insinerasi

Dalam 12 bulan ke depan, pemerintah Indonesia diperkirakan akan mempercepat tender proyek PLTSa di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Makassar. Namun, tekanan dari masyarakat sipil dan kajian akademis semakin kuat. Pada Januari 2026, Koalisi Anti Insinerasi yang beranggotakan 30 organisasi lingkungan mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung terhadap Perpres 35/2018 yang menjadi dasar percepatan PLTSa.

Pekerja bank sampah memilah plastik untuk didaur ulang di Yogyakarta, alternatif insinerasi
VegEco / archive

Sinyal yang perlu dipantau dalam 12 bulan

  • Keputusan Mahkamah Agung atas gugatan Koalisi Anti Insinerasi (diharapkan akhir 2026).
  • Kebijakan baru KLHK tentang standar emisi dioksin yang lebih ketat untuk PLTSa.
  • Peningkatan partisipasi bank sampah di kota-kota besar yang menolak insinerasi.
  • Peluncuran peta jalan ekonomi sirkular nasional oleh Bappenas pada 2026.
  • Tender proyek PLTSa di Jakarta yang ditentang oleh warga dan akademisi UI.

Alternatif yang Lebih Adil dan Efektif

Alternatif yang lebih murah dan berkelanjutan adalah penguatan bank sampah, pengomposan skala kota, dan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. Contohnya, kota Surabaya telah mengurangi 20% sampah ke TPA sejak 2020 melalui program 'Surabaya Green and Clean', tanpa insinerasi. Biaya investasi untuk pengomposan per ton sampah hanya sepertiga dari insinerasi, dan menciptakan lapangan kerja hijau bagi masyarakat lokal.

Peran Kebijakan Nasional dan Internasional

Indonesia sebagai anggota G20 dan peratifikasi Paris Agreement memiliki komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% pada 2030. Namun, insinerasi justru menghasilkan emisi yang tidak sejalan dengan target ini. Menurut Climate Policy Initiative (2025), investasi dalam pengelolaan sampah rendah karbon seperti daur ulang dan pengomposan dapat menciptakan 3 kali lebih banyak lapangan kerja per ton sampah dibandingkan insinerasi.

Alih-alih membakar sampah, Indonesia harus berinvestasi pada infrastruktur daur ulang yang memberdayakan masyarakat. Insinerasi adalah teknologi abad ke-20, bukan solusi untuk masa depan.

Dwi Sawung, Direktur Eksekutif, YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi)

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah insinerasi sampah aman bagi lingkungan?

Tidak, insinerasi menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin, furan, dan logam berat yang dapat mencemari udara dan tanah. Menurut Greenpeace Indonesia (2023), emisi dari PLTSa Benowo telah melampaui baku mutu, menyebabkan masalah kesehatan bagi warga sekitar. Abu sisa pembakaran juga memerlukan penimbunan khusus, sehingga tidak menghilangkan sampah sepenuhnya.

Bagaimana insinerasi mempengaruhi daur ulang?

Insinerasi mengurangi ketersediaan bahan baku daur ulang karena sampah yang seharusnya bisa didaur ulang justru dibakar. Di Indonesia, pemulung yang menggantungkan hidup pada sampah plastik kehilangan sumber pendapatan ketika PLTSa beroperasi. Hal ini menghambat pertumbuhan ekonomi sirkular dan target nasional untuk mengurangi sampah plastik laut.

Apakah PLTSa mengurangi emisi gas rumah kaca?

Tidak, PLTSa justru menambah emisi. Menurut IPCC (2022), insinerasi menghasilkan 0,4–0,8 ton CO2 per ton sampah, lebih tinggi dari emisi yang dihasilkan oleh pengomposan yang hampir nol. Bahkan jika dibandingkan dengan TPA yang menghasilkan metana, insinerasi belum tentu lebih baik karena metana dari TPA bisa ditangkap dan digunakan sebagai energi biogas.

Apakah insinerasi lebih murah daripada komposting?

Tidak, insinerasi jauh lebih mahal. Biaya operasional insinerasi mencapai Rp 800.000–1,2 juta per ton sampah, sementara pengomposan hanya Rp 150.000–300.000 per ton, menurut KLHK (2024). Selain itu, insinerasi memerlukan investasi modal besar dan teknologi impor, sedangkan pengomposan dapat dilakukan dengan peralatan sederhana dan melibatkan komunitas lokal.

Mengapa pemerintah Indonesia tetap mendorong insinerasi?

Pemerintah melihat PLTSa sebagai solusi cepat untuk mengurangi sampah yang menumpuk di TPA, terutama di kota besar. Tekanan dari investor asing dan target energi terbarukan juga berperan. Namun, banyak akademisi dan aktivis menilai kebijakan ini mengabaikan bukti ilmiah tentang dampak lingkungan dan sosial, serta lebih menguntungkan korporasi daripada masyarakat.

Apa alternatif zero waste yang lebih baik?

Alternatif yang lebih baik adalah kombinasi antara pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengomposan, dan daur ulang melalui bank sampah. Kota Yogyakarta berhasil mengurangi 25% sampah ke TPA dengan pendekatan ini. Kebijakan seperti larangan plastik sekali pakai, insentif untuk produk isi ulang, dan edukasi masyarakat juga terbukti efektif di berbagai negara.

Poin Utama yang Perlu Diingat

Key Takeaways

  • Pasar insinerasi Indonesia mencapai Rp 40 triliun, tetapi didominasi perusahaan asing dan merugikan pemulung.
  • Insinerasi menghasilkan emisi CO2 tinggi dan biaya operasional 3 kali lipat komposting.
  • Alternatif seperti bank sampah dan pengomposan lebih murah, ramah lingkungan, dan menciptakan lapangan kerja.
  • Kebijakan nasional perlu diubah untuk mendukung ekonomi sirkular, bukan teknologi pembakaran.